Rabu, 22 Agustus 2012

Khalifah Umar ibnul Khattab



Kepribadian Umar bin Khattab
Namanya adalah Umar bin Khattab bin Nufayl bin Abdul Izza Abu Hafshin Al Faruq Al Adawy Al Quraisy. Lahir 10 tahun setelah kelahiran Nabi saw. Sebelum beragama Islam ia adalah orang yang biasa dipercaya sebagai duta dan juru bicara bagi kaumnya. Sebagaimana masyarakat jahiliyah pada umumnya ia biasa melakukan kebiasaan bangsa Quraisy jahiliyah seperti minum khamar, menyembah berhala dan kebiasaan jahiliyah lainnya. Ia termasuk orang yang paling keras permusuhannya terhadap da’wah Islam.
Dalam kekerasan permusuhannya terhadap da’wah, ia merasa kagum dengan kekerasan sikap kaum muslimin dalam mempertahankan keyakinan mereka. Inilah salah satu sebab pembuka hatinya untuk menerima Islam. Beliau masuk Islam pada tahun ke 6 kenabian. Sebagian ahli sejarah berpendapat, beliau menggenapi  40 orang jumlah kaum muslimin. Sebelumnya Rasulullah pernah berdo’a,
اللّهمّ أعِزَّ الإسلام بِأحب الرجلين إليك عمر بن االخطاب أو عمرو بن هشام
“Ya Allah perkuatlah Islam dengan yang lebih Kau cintai dari dua orang lelaki, Umar bin Khattab atau Amru bin Hisyam”.
Setelah Islam, beliau adalah orang yang selalu membela aqidah Islam. Sikapnya tegas adalam membela kebenaran. Sangat tunduk dan taat kepada pimpinan.

Pengangkatan Umar bin Khattab sebagai Khalifah
Khalifah Abu Bakar, ketika merasakan bahwa ajalnya telah dekat, melakukan jajak pendapat untuk mencari orang yang tepat untuk menggantikannya. Beliau bertanya kepada beberapa tokoh sahabat. Yang pertama adalah Abdurrahman bin Auf.
                “Bagaimana pendapatmu tentang Umar?”
                “Demi Allah, dia adalah yang paling utama dari siapa pun dalam pikiran anda sekarang. Tapi sikapnya keras.”
                “Itu karena ia melihatku terlalu lembut. Jika ia diamanahi kepemimpinan, pasti sikapnya akan berubah. Lihatlah kalau aku marah kepada seseorang, ia pasti membela orang itu. Kalau aku bersikap lunak kepada seseorang maka ia sengaja bersikap keras kepadanya. Baiklah tolong rahasiakan pembicaraan kita ini.”
                Orang kedua adalah Utsman bin Affan. “Bagaimana pendapat anda hai Aba Abdillah tentang Umar?”
                “Anda lebih arif dalam hal itu.”
                “Ya, tapi saya minta pendapat anda.”
                “Pengetahuanku tentang Umar adalah hatinya baik sekalipun sikapnya keras. Tiada seorang pun serupa dia dalam lingkungan kita.”
                “Baik, tolong rahasaikan pertemuan kita ini.”
Dalam sebuah riwayat Khalifah Abu bakar juga menemui Ali bin Abi Thalib. Pada Ali redaksi pertanyaan beliau berbeda. “Bagaimana pendapat anda jika aku memilih salah seorang sahabat Rasulullah sebagai penggantiku?”
Maka jawaban Ali adalah, “Aku tidak setuju, kecuali orang itu adalah Umar bin Khatab.”
Thulhah bin Ubaydillah juga ditanyai Khalifah, jawabnya, “Anda menunjuknya sebagai pengganti anda, padahal anda lihat apa yang diperbuatnya terhadap khalayak ramai, sedangkan anda masih hidup, apalagi jika anda sudah meninggal. Baiknya anda tanyakan kepada masyarakat.”
Maka pada hari berikutnya, diundanglah orang banyak untuk dimintai pendapat mereka tentang maksud Khalifah Abu Bakar. “Sudilah kemukakan pendapat kalian, mengenai orang yang aku tunjuk untuk menggantikanku. Demi Allah tidaklah aku tunjuk ia kecuali dengan pemikiran yang mendalam dan bukanlah aku tunjuk orang dari lingkungan keluargaku. Aku menunjuk Umar bin Khattab menggantikanku, sudilah menerima dan mematuhinya.”
Orang-orang menjawab serentak perkataan Khalifah itu, “Sami’na wa atha’na!” (Kami dengar dan kami patuhi!).
Sebagian Ulama Salaf berpendapat bahwa cara pengangkatan Umar oleh Abu Bakar ini disebut istikhlaf dan mengakuinya sebagai salah satu cara yang sah dalam suksesi kepemimpinan. Sedangkan Syaikh Dr Muhammad Ramadhan Al Buthy berpendapat bahwa istikhlaf tidak dapat diterima kecuali setelah mendapat persetujuan kaum muslimin. Khalifah Abu Bakar ketika itu telah terlebih dahulu melakukan masyurah dhimniyah (musyawarah terbatas dan tertutup) guna mencari orang yang tepat, walaupun beliau sudah cenderung kepada Umar, baru kemudian memantapkan keputusannya untuk melakukan istikhlaf.

Amanah Terhadap Khalifah Umar
Terhadap Umar bin Khattab, Khalifah Abu Bakar berwasiat, “Hai Umar, Allah memikulkan tanggung jawab pada malam hari, jangan tangguhkan hingga siang. Allah pikulkan tanggung jawab pada siang hari jangan tangguhkan sampai malam. Allah tidak akan menerima amal sunat sebelum yang wajb dilaksanakan. Anda tentu tahu bahwa timbangan seseorang dai hari kiamat akan berat jika melaksanakn kebenaran, dan akan ringan karena membela kepalsuan. Anda pasti tahu bahwa ayat-ayat kegembiraan datang bersama ayat-ayat ancaman dan sebaliknya, supaya manusia gembira sekaligus gentar, gembira dalam harap terhadap apa-apa yang diridhai Allah sehingga tidak gentar ketika bertemu Allah kelak. Anda saksikan Allah menceritakan penderitaan penduduk neraka, berharaplah tidak kesana. Allah menceritakan kebahagiaan penduduk surga, bertekadlah untuk beramal seperti amalan mereka. Inilah amanatku, pegangngilah niscaya engkau akan tidak lebih mencintai yang tak tampak dari pada yang tampak.”

Sebutan Amirul Mu’minin
Jabatan Khalifah itu lengkapnya adalah Khalifatur Rasulullah. Bermakna pengganti Rasulullah. Abu Bakar pada awalnya dipanggil orang dengan sebutan itu, Khalifah Rasulullah. Maka ketika datang pejabat setelahnya sebutannya adalah khalifah khalifaturRasulillah. Agak terlalu panjang, meskipun pada masa Abu Bakar, panggilan itu sudah dipersingkat dengan khalifah saja.
Sementara itu, gubernur-gubernur Islam yang menguasai daerah-daerah taklukan disebut amir atau emir, menggantikan syaikh (kepala kabilah) sekaligus membawahi mereka. Maka dipasangkanlah sebutan Amirul Mu’minin kepada Khalifah Umar bin Khattab sebagai pemimpin umat Islam dan wilayah-wilayahnya secara keseluruhan. Sebutan itu kemudian menjadi umum dan mentradisi dalam sistem ketatanegaraan Islam selanjutnya.

Pemerintahan Umar Bin Khatab
Masa kepemimpinan Umar bin Khattab berlangsung selama 10 tahun 6 bulan. Yaitu dari 13 H/634 M sampai 23 H/644 M. Beliau wafat pada usia 63 tahun, karena terbunuh dalam suatu pembunuhan politik yang pertama dalam sejarah Islam.
Pada periode ini berlangsung penaklukan-penaklukan dan pengambil alihan kekuasaan dari Persia dan Byzantum ke tangan Islam. Byzantium kehilangan banyak wilayah jajahannya. Sementara wilayah kekuasaan Persia direbut satu persatu sampai habis.
Sebagai pemimpin beliau sangat menyayangi rakyatnya. Adil dalam pemerintahannya. Jenius dalam masalah hukum. Beliau menyeleksi aparatnya dengan ketat dan hati-hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar